
Bulan Dzulhijjah adalah bulan yang mulia, salah satu dari bulan haram (suci) dimana amal ibadah di bulan ini pahalanya dilipatgandakan. Dan bulan ini juga merupakan bulan pelaksanaan ibadah haji. Jutaan umat Islam berkumpul di tanah suci untuk menunaikan panggilan Allah melaksanakan rukun Islam yang kelima. Kemuliaan bulan Dzulhijjah, khususnya pada sepuluh hari pertama telah diabadikan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
“Demi fajar, Dan malam yang sepuluh, Dan yang genap dan yang ganjil, Dan
malam bila berlalu” (QS Al-Fajr : 1-4)
Allah SWT. bersumpah dengan lima makhluk-Nya, bersumpah dengan waktu fajar, malam yang sepuluh, yang genap, yang ganjil dan malam ketika berlalu. Dan para ulama tafsir seperti, Ibnu Abbas ra, Ibnu Zubair ra, Mujahid ra, As-Sudy ra, Al- Kalby ra. menafsirkan maksud malam yang sepuluh adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Allah bersumpah dengan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah karena keutamaan beribadah pada hari tersebut, sebagaimana hadits Rasul saw, :
Dari Ibnu Abbas ra berkata, Rasulullah saw. bersabda,
BLOG Hari Sanusi,M Sejak Jumadil Awal 1432 - April 2011. hp.08119891013 Saya menciptakan blog, sebagai wahana komunikasi bertukar pikiran secara jernih, atas dasar prinsip saling membangun. Melalui blog ini, saya ingin berbagi pemikiran, pengalaman dan gagasan tentang berbagai hal. Apa yang saya ungkapkan, mungkin saja bersifat subyektif, karena didasarkan pada titik pandang, falsafah dan keyakinan yang saya anut.
10 Hari yang Dicintai Alloh di Bulan Dzulhijjah
Perjalanan Mentari Hati
hatimu adalah cermin yang mengilap. Engkau harus membersihkan tabir debu yang mengotorinya. Hati ditakdirkan untuk memantulkan cahaya rahasia Ilahi. Ketika cahaya dari
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ
Allah [Yang] adalah Cahaya langit dan bumi
مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ
mulai menyinari bagian-bagian hatimu, pelita hati akan menyala. Pelita hati itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya)
Kemudian di dalam hati itu, kilat penyingkapan ilahi akan memancar. Kilat ini berasal dari awan-guntur dari makna
يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لا شَرْقِيَّةٍ وَلا غَرْبِيَّةٍ
yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat,
Selengkapnya...
Mantapkan Tujuan
Sekarang, kita melihat dari jauh tentang perjalanan hidup sahabat. Sudahkah benar? Atau merasa benar sebagaimana sahabat ketika pertama kali menempuh jalan yang ternyata salah. Saya bertanya kembali sebenarnya apa tujuan perjalanan kehidupan sahabat? Diamlah sejenak dan jawablah dalam hati sahabat. Tidak usah terburu-buru. Karena ini menyangkut kehidupan sahabat yang sebentar, tidak bisa diulang dan amat menentukan untuk perjalanan kehidupan yang panjang dan abadi, negeri akhirat. Sebelum semuanya terlambat.
Selengkapnya...
Manusia Ini Pasti Sukses
Seorang mukmin sudah pasti menang dan bahagia. Kebahagiaan sejati yang didapatkan di dunia ini juga di akhirat kelak. Dan seorang mukmin akan memberikan cahaya kebahagiaannya untuk orang-orang disekitarnya. Cahaya yang menerangi.
Seorang ulama tabiin, Imam Hasan al-Bashn berkata, "Seorang mukmin adalah orang yang mengetahui bahwa apa yang Allah 'azza wa jalla firmankan adalah sebagaimana yang Dia firmankan (tidak menggugat, mengeluh, menyesali, dan lain-lain).
Selengkapnya...
Teruslah Berzikir ...
“Janganlah meninggalkan dzikir, hanya karena anda tidak hadir bersama Allah dalam dzikir. Karena kealpaanmu jauh dari dzikir itu lebih berbahaya ketimbang kealpaanmu kepadaNya ketika sedang berdzikir."
Syaikh Ibn Athoillah
Dzikir merupakan ibadah paling utama dan paling penting dalam perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala. Karena itu menempati posisi kunci dalam memberishkan diri. Karena itu jika seseorang berdzikir lisannya, sementara hatinya tidak hadir di depan Allah, sama sekali dzikir tidak bisa ditinggalkan. Sebab orang yang sama sekali jauh dari dzikir itu, resikonya lebih berbahaya ketimbang orang yang tidak hadir jiwanya ketika berdzikir.
Selengkapnya...
7 Tips Menikmati Hidup
1. Pikirkan pikiran-pikiran positif.
Ketika Anda menemukan diri Anda berpikir pikiran negatif, hentikan segera dengan cara apapun yang diperlukan.He he he Bila perlu, tampar wajah sendiri, berteriak sesuatu yang positif di bagian atas paru-paru sahabat atau melompat naik dan turun. Sekali lagi, ini untuk kebahagiaan dan kesuksesan sahabat.
Masa lalu tidak akan kembali, jangan gadaikan hidup kita kepada kesalahan masa lalu. Minta ampunlah kepada Alloh. Mulailah rangkai masa depan dengan hasil yang baik hari ini. Masa lalu jadi pelajaran, masa kini adalah tindakan kebahagiaan untuk sukses di esok hari.
3. Lebih fokus lagi, hidup pada saat ini.
Bahkan 10 menit lalu adalah masa lalu. Jika sahabat senatiasa dzikir, pada saat ini sahabat akan selalu senang karena tidak ada yang salah dalam sepersekian detik.
Mereka yang memiliki banyak obsesi tentang materi haru bersiap ketika materi itu hilang dari diri mereka taua tidak tercapai. Menjadi orang yang sedikit keinginan kan membuat hiudp menjadi lebih bermakna. Bedakan antara keinginan dan tindakan positif.
5. Jaga kebugaran Kita boleh jadi memiliki kekayaan, tetapi tanpa badan yang bugar, itu semua tidak bisa kita nikmati. Kita hanya punya satu tubuh, jadi jangan jadi pemalas untuk rajin merawatnya.
6. Seyumlah lebih sering
Ketika kita tersenyum, otak kita mengeluarkan serotonin, homon kebahagiaan. Senyum adalah jalan alami untuk bahagia
7. Bertafakurlah setiap malam setidaknya selama 1 jam.
Dalam dunia modern di mana semua orang sangat terhubung dengan segala sesuatu yang lain melalui ponsel, TV dan internet, orang yang paling jarang menikmati keindahan keheningan. Kemampuan untuk menenangkan pikiran dan merilekskan tubuh adalah seni dan keterampilan yang setiap orang harus berkembang. Dan Alloh menyediakan waktunya untuk kita.Cukup duduk di suatu tempat, lebih baik di alam, dan fokuslah berdzikir, membava Alquran. Biasakanlah maka anda akan mendapatkan keindahan, merasa sangat jernih dan tumbuh. Satu-satunya cara untuk benar-benar memahami tips ini adalah dengan mencobanya. Mari membangun surga hari ini !
@KuliahMQ
- Hari Sanusi, Muhammad -
Berani Melakukan Perubahan
Perhatikan, sekali lagi perhatikan … semua disekeliling anda sedang berubah. Suka atau tidak suka. Cepat atau lambat. Lihat, dinding dan cat rumah anda berubah. Tanaman di teras rumah anda berubah. Sahabat, ibu, bapak dan saudara anda berubah. Tak terkecuali anda. Berubah. Semua di dunia ini terus berubah, semua yang tercipta mesti berubah. Semakin lama perubahan itu semakin cepat.
Internet, Handphone, SMS, Email, adalah kata-kata yang sangat akrab dengan kita saat ini. Padahal kata-kata ini sangat asing bagi telinga kita lima belas tahun yang lalu, dan berapa banyak saat ini orang-orang yang mengambil keuntungan dari perkembangan teknologi ini. Tengoklah warung-warung internet yang bertebaran sampai ke pelosok-pelosok tanah air, gerai-gerai isi ulang, tempat service handphone, sampai kuis-kuis di televisi yang memanfaatkan SMS sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan. Nah ini adalah gambaran bahwa dunia terus berubah, dan banyak orang bisa mengambil keuntungan dan kemenangan dari perubahan ini.
Namun, sebagian orang menyangka perubahan itu kadang begitu berat dan menyakitkan. Tapi seringkali, hanya dengan melakukan perubahanlah sebuah masalah bisa diatasi tanpa bisa ditawar. Sejatinya, hal yang paling sulit berubah adalah cara berpikir. Cara mengubahnya membutuhkan waktu dan kesabaran, namun banyak lompatan akan terjadi manakala seseorang mengubah bagaimana ia berpikir.
Nikmatnya menjadi seorang muslim, ia memiliki petunjuk kemana ia harus berubah, penjelas ketika ia sedang berproses untuk berubah dan pembimbing untuk melangkah dalam tiap jejak perubahan yang diupayakan. Ya, karena setiap muslim memilikinya, Alquran. Kekuatan berpikir yang tercelup dengan celupan Alquran, menghasilkan perubahan hakiki, sejati dan permanen. Mewujudkan manusia yang berakhlaq Alquran, ia bagaikan Alquran yang berjalan.
Puasa Ramadhan merupakan cara ampuh untuk memulai sesuatu perubahan. Karena ego – hawa nafsu – tak berkutik, karena proses berpikir di install ulang dengan pembelajaran fikir [tadarus] Alquran. Dan totalitas diri diajak untuk melakukan kebiasaan-kebiasaan orang-orang besar dalam memulai perubahan, untuk menjadi mulia. Menang! Itu kata akhirnya. Tentu bagi mereka yang mau dan percaya diri untuk memulai perubahan dari dirinya sendiri. Karenanya, Allah tidak akan merubah suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang memulai perubahan dari dirinya sendiri. Perhatikan QS.Arradu [13] : 11
Cahaya Ilmu
Sahabat yang disayang Alloh,
Bentuk kenikmatan pertama yang Alloh anugerahkan kepada kita adalah nikmat diciptakan sebagai manusia yang sempurna, mulanya dari air yang hina yang berasal dari sulbi ayah kita. Setelah itu, Alloh pelihara dalam rahim ibu kita, lalu Alloh meniupkan sebagian ruhNya dalam janin dalam rahim ibu kita.
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya." QS.Shood : 72
Sampai akhirnya kita dilahirkan ke dunia. Sebuah proses penciptaan & pemeliharaan yang sempurna. Subhanalloh.
Selengkapnya...
Makna Ikhlas
Ikhlas kepada Allah subhanahu wata’ala maknanya seseorang bermaksud melalui ibadahnya tersebut untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah subhanahu wata’ala dan mendapatkan keridhaanNya.
Bila seorang hamba menginginkan sesuatu yang lain melalui ibadahnya, maka di sini perlu dirinci lagi berdasarkan klasifikasi-klasifikasi berikut:
Pertama, dia memang ingin ber-taqarrub kepada selain Allah di dalam ibadahnya ini dan mendapatkan pujian semua makhluk atas perbuatannya tersebut. Maka, ini menggugurkan amalan dan termasuk syirik.
Di dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah rodhiallaahu’anhu bahwasanya Nabi shollallaahu’alahi wasallam bersabda, “Allah subhanahu wata’ala berfirman,
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِيْ تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ.
“Aku adalah Dzat Yang paling tidak butuh kepada persekutuan para sekutu; barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukanKu dengan sesuatu selainKu, maka Aku akan meninggalkannya beserta kesyirikan yang diperbuatnya.”[1]
Kedua, dia bermaksud melalui ibadahnya untuk meraih tujuan duniawi seperti kepemimpinan, kehormatan dan harta, bukan untuk tujuan ber-taqarrub kepada Allah; maka amalan orang seperti ini akan gugur dan tidak dapat mendekatkan dirinya kepada Allah subhanahu wata’ala. Dalam hal ini, Allah subhanahu wata’ala berfirman,
مَن كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لاَ يُبْخَسُونَ
أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُواْ فِيهَا وَبَاطِلٌ مَّا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16).
Perbedaan antara klasifikasi kedua ini dan pertama; bahwa dalam klasifikasi pertama, orang tadi bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah. Sedangkan pada klasifikasi ini, dia tidak bermaksud agar dirinya dipuji atas ibadahnya tersebut sebagai ahli ibadah kepada Allah bahkan dia malah tidak peduli atas pujian orang terhadap dirinya.
Ketiga, dia bermaksud untuk ber-taqarrub kepada Allah subhanahu wata’ala, disamping tujuan duniawi yang merupakan konsekuensi logis dari adanya ibadah tersebut, seperti dia memiliki niat dari thaharah yang dilakukannya -disamping niat beribadah kepada Allah- untuk menyegarkan badan dan menghilangkan kotoran yang menempel padanya; dia berhaji -di samping niat beribadah kepada Allah- untuk menyaksikan lokasi-lokasi syiar haji (al-Masya’ir) dan bertemu para jamaah haji; maka hal ini akan mengurangi pahala ikhlas akan tetapi jika yang lebih dominan adalah niat beribadahnya, berarti pahala lengkap yang seharusnya diraih akan terlewatkan. Meskipun demikian, hal ini tidak berpengaruh bila pada akhirnya melakukan dosa. Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wata’ala mengenai para jamaah haji,
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَبْتَغُواْ فَضْلاً مِّن رَّبِّكُم
“Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rizki hasil perniagaan) dari Rabbmu.” (Al-Baqarah: 198).
Jika yang dominan adalah niat selain ibadah, maka dia tidak mendapatkan pahala akhirat, yang didapatnya hanyalah pahala apa yang dihasilkannya di dunia itu. Saya khawatir malah dia berdosa karena hal itu, sebab dia telah menjadikan ibadah yang semestinya merupakan tujuan yang paling tinggi, sebagai sarana untuk meraih kehidupan duniawi yang hina. Maka, dia tidak ubahnya seperti orang yang dimaksud di dalam firmanNya,
وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُواْ مِنْهَا رَضُواْ وَإِن لَّمْ يُعْطَوْاْ مِنهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ
“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian daripadanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (At-Taubah: 58).
Di dalam Sunan Abu Daud dari Abu Hurairah rodhiallaahu’anhu disebutkan bahwa ada seorang laki-laki berkata, ‘Wahai Rasulullah, (bagaimana bila-penj.) seorang laki-laki ingin berjihad di jalan Allah sementara dia juga mencari kehidupan duniawi?” Rasulullahsholallaahu’alaihi wasallam bersabda, “Dia tidak mendapatkan pahala.” Orang tadi mengulangi lagi pertanyaannya hingga tiga kali dan Nabisholallaahu’alaihi wasallam tetap menjawab sama, “Dia tidak mendapatkan pahala.”[2]
Demikian pula hadits yang terdapat di dalam kitab ash-Shahihain dari Umar bin al-Khaththab rodhiallaahu’anhu bahwasanya Nabishollallaahu’alaihi wasallam bersabda,
مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.
“Barangsiapa yang hijrahnya karena ingin meraih kehidupan duniawi atau untuk mendapatkan wanita yang akan dinikahinya; maka hijrah-nya hanya mendapatkan tujuan dari hijrahnya tersebut”.[3]
Jika persentasenya sama saja, tidak ada yang lebih dominan antara niat beribadah dan non ibadah; maka hal ini masih perlu dikaji lebih lanjut. Akan tetapi, pendapat yang lebih persis untuk kasus seperti ini adalah sama juga; tidak mendapatkan pahala sebagaimana orang yang beramal karena Allah dan karena selainNya juga.
Perbedaan antara jenis ini dan jenis sebelumnya (jenis kedua), bahwa tujuan yang bukan untuk beribadah pada jenis sebelumnya terjadi secara otomatis. Jadi, keinginannya tercapai melalui perbuatannya tersebut secara otomatis seakan-akan yang dia inginkan adalah konsekuensi logis dari pekerjaan yang bersifat duniawi itu.
Jika ada yang mengatakan, “Apa standarisisi pada jenis ini sehingga bisa dikatakan bahwa tujuannya yang lebih dominan adalah beribadah atau bukan beribadah?”
Jawabannya, standarisasinya bahwa dia tidak memperhatikan hal selain ibadah, maka baik hal itu tercapai atau tidak tercapai, telah mengindikasikan bahwa yang lebih dominan padanya adalah niat untuk beribadah, demikian pula sebaliknya.
Yang jelas, perkara yang merupakan ucapan hati amatlah serius dan begitu urgen sekali. Indikasinya, bisa jadi hal itu dapat membuat seorang hamba mencapai tangga ash-Shiddiqin, dan sebaliknya bisa pula mengembalikannya ke derajat yang paling bawah sekali.
Sebagian ulama Salaf berkata, “Tidak pernah diriku berjuang melawan sesuatu melebihi perjuangannya melawan (perbuatan) ikhlas.”
Kita memohon kepada Allah untuk kami dan anda semua agar dianugerahi niat yang ikhlas dan lurus di dalam beramal. Wallahu ‘alam. Syaikh Ibnu Utsaimin
Selengkapnya...
Semoga Sholat Kita Diterima
الله 'Azza wajalla berfirman : "Tidak semua orang yang shalat itu bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada keagunganKu,
menahan syahwatnya dari perbuatan haram laranganKu dan tidak terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah dan menampung orang asing. Semua itu dilakukan karena Aku."
(hadits Qudsi)
Selengkapnya...




