Doa Anti Galau

Sahabat
Share nih DOA ANTI GALAU




Klik pada gambar untuk memperbesar

Semoga bisa diamalkan dan disebarkan.

Design by maramis
Selengkapnya...

Gowes Barokah

Bike to work, kita boleh jadi sangat familiar dengan istilah itu. Berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung yang memiliki semangat, gagasan dan harapan akan terwujudnya udara bersih di perkotaan, lahirlah komunitas itu. Bersepeda memang menyehatkan, unik, ramah lingkungan dan sederhana. Andalkan keseimbangan dan teruslah meng’gowes’.

Dalam sudut pandang yang lain, ternyata meng’gowes’ sepeda adalah urusan utama bagi kehidupaan. Ini untuk mereka yang menyambung hidup, menjemput rezeki dengan meng ‘gowes sepeda setiap hari. Anda pasti sudah dekat dengan para pedagang yang menjajakan jualannya dengan bersepeda. Mulai dari siomai, baso, bahkan kopi dan sejenisnya. Jadilah ‘kafe sepeda’ keliling.

Tentu, mereka bekerja dengan tangguh, setangguh otot kaki yang tambah kuat, beribadah dengan keras menunaikan amanah untuk membahagiakan keluarga. Istiomah menjaga keseimbangan, mengayuh medan yang panjang agar kehidupan terus berjalan. Tentu dengan bersepeda mereka mengharap perbaikan kehidupan. Subhanalloh.

Oleh karena itu, DPU Daarut Tauhiid menggagas suatu program pemberdayaan ekonomi produktif agar makin banyak mereka yang tertolong untuk bekerja dengan meng ‘gowes’ sepeda. Mengajak anda untuk turut berbagi dan berpartisipasi dalam program yang kami berinama ‘Gowes Barokah’. Program dengan target memberdayakan dan memandirikan 1000 keluarga di desa dengan wilayah sasaran di 7 provinsi se-Indonesia. Setidak-tidaknya, mudah-mudahan kemiskinan sebesar 30 juta jiwa di negeri yang bisa kita sedikit turunkan dengan Gowes Barokah. Semoga Alloh memberkahi upaya kita dan menjaganya senantiasa dalam keikhlasan.


M Hari Sanusi
Maret 2012 Selengkapnya...

Mengambil Kekuatan dari Musibah

Tidak ada manusia yang menginginkan harapannya sirna, cita-citanya tak kunjung kesampaian, badannya sakit menahun dan musibah meliputinya. Namun, kehidupan berjalan dengan sunnatullohnya sendiri, ada siang malam, hujan juga paceklik. Kita tidak bisa mengubah arah angin, tetapi kita bisa mengubah arah layar, demikian petuah bijak mengajarkan kita.

Tidaklah Allah swt. menciptakan peristiwa, atau kejadian sesuatu yang sia-sia. Manusia dianjurkan untuk merenung dan mengambil pelajaran dari berbagai macam peristiwa yang terjadi. Islam sangat mendorong umatnya untuk menggunakan potensi yang Allah swt. berikan kepadanya; penglihatan, pendengaran, hati, panca indra yang lain agar difungsikan untuk merenung hikmah dibalik peristiwa.

Alloh yang Mahasuci dan Mahaluhur dengan jelas, menyatakan :
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah. ”QS. Syuro/42:30-31

Boleh jadi, musibah yang menimpa manusia, hadir karena ketidakpedulian, keserakahan dan kemaksiatan manusia lainnya. Misalnya gizi buruk (baca: kelaparan akut dan dalam jangka waktu panjang), yang telah dengan tanpa ampun merebak ke sebagian besar penjuru negara kita, dan negara-negara lain bahkan di negara maju sekalipun tidak luput dari kerawan-panganan. Penyebab merebaknya gizi buruk adalah kombinasi dari berbagai faktor yang merupakan ulah manusia sendiri.
Dari mulai kekeringan dahsyat yang sebagiannya akibat dari perubahan iklim ekstrim, peperangan, sistem ekonomi yang menjebak dunia dalam krisis global, hingga pemerintahan yang (nyaris?) gagal membentuk masyarakat yang memiliki akses kepada pangan dan sarana kesehatan yang memadai.

Oleh karena itu, musibah adalah wasilah untuk manusia berbenah diri, mengevaluasi perilakunya terhadap sesama dan alam sekitar, pengingat akan kekuasaan Alloh dan memperkokoh iman dengan sabar sehingga menjadi jalan taubat, makin kuat iman dan makin mendekat kepada Alloh. Bukankah kualitas kekuatan pribadi berbanding lurus dengan ‘skala’ musibah yang menimpa.

Dalam persfektif penanggulangan musibah dan bencana, justru musibah adalah ladang amal untuk memberikan pertolongan kepada yang menderita. Sehingga, musibah justru menunjukkan kualitas kemanusiaan suatu masyarakat, yang saling peduli, saling menolong bahkan saling menanggung satu sama lain. Musibah bukan tidak mungkin memperkuat sinergi, kemitraan, memperkuat komunikasi dan mewujudkan ‘the power of we’. Kekuatan Kebersamaan.

Pesan positif dalam musibah diuntaikan dalam suatu doa indah dari Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah satu di antara kalian mendapatkan musibah, maka ucapkanlah; “Sesungguhnya kami milik Allah dan kami kembali kepada-Nya, “Allahumma ‘indaka ahtasibu mushibatii, fa ajirnii ‘alaihaa waabdilnii bihaa khairan minhaa. Ya Allah kepada-Mu saya ikhlaskan musibah yang menimpaku, maka berilah pahala kepadaku atas musibah ini, dan berilah saya ganti yang jauh lebih baik darinya.” Imam Muslim
.Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, … dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” QS.Al-Insyirah:5,8. 



M Hari Sanusi
April 2012

Selengkapnya...

Inpirasi Hikmah Tentang Anak dan Remaja

"Anak muda mana pun yang tumbuh dalam menuntut ilmu, dan ibadah sampai ia menjadi tua, sedangkan dia masih tetap di atas hal itu, maka Allah akan memberikannya pada hari kiamat pahala 72 orang shiddiqin".

[HR.Tamam Ar-Raziy dalam Al-Fawaid (2428), Ibnu Abdil Barr dalam Jami' Al-Ilm (1/82)].

:::
Selengkapnya...

Nikmati Suasana Hutan di Pinggiran Jakarta

LELAH melihat hutan beton yang menjulang atau kesemrawutan lalu lintas, arahkan kendaraan ke Kampus Universitas Indonesia, Depok, atau tengoklah Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Embusan angin menyejukkan dan suara gemeresik daun dari pohon-pohon tinggi terdengar. Sesekali kicau burung menyahuti.


Lokasi hutan UI dekat dari Jakarta, tidak ada biaya masuk, dan dapat suasana segar.
-- Adrian Bachrumsyah

Hemmm, segarnya…. Menikmati suasana itu serasa berada di lokasi nun jauh di pedalaman Indonesia. Padahal, tempat ini tidak jauh dari kota Jakarta. Lokasinya berada di hutan Kampus Universitas Indonesia (UI) yang membentang antara Depok dan Jakarta Selatan.
Sajian alam inilah yang mengundang banyak orang mendatangi hutan UI. Salah satu titik pertemuan para penikmat suasana hutan kota di utara Fakultas Teknik UI. Dari area ini, mereka masuk hutan dengan beragam kepentingan. Sebagian bersepeda, berjalan-jalan saja, joging, atau memancing di danau tepian hutan.

Walau berbeda kegiatan menikmati suasana hutan kota, satu kesan yang mereka rasakan, yaitu kedamaian menyatu dengan alam.
Nur Halim, pegawai PT Pertamina, sangat menggemari suasana tersebut. Setiap ada keinginan, terutama selepas kerja, dia bisa mengunjungi hutan UI, seperti yang dilakukan pada Kamis (15/3/2012) sore. Dengan seragam kantor masih melekat di tubuhnya, dia melintasi jalan tanah menantang di Trek Mangkuk.
Bersama puluhan penggemar sepeda lain, Nur menikmati suasana hutan kota UI. ”Susah mencari tempat seperti ini,” katanya.

Tahun 2006, dia dan sesama penggemar sepeda di komunitas Rombongan Anak Mangkuk (Roam) UI membuat jalur bersepeda mini down hill sepanjang 300 meter. Lantaran salah satu ruasnya berbentuk seperti mangkuk, jalur ini dikenal dengan Trek Mangkuk.
Meski pendek, Trek Mangkuk sering kali memakan korban. Sudah biasa pengguna sepeda jatuh terpelanting, menabrak pohon, atau keluar lintasan. Namun, hal itulah yang membuat mereka ketagihan dan ingin menjajal lagi.
Hampir setiap hari trek ini dipakai orang, terutama sore hari selepas melakukan aktivitas sekolah, kuliah, atau bekerja. ”Lokasi hutan UI dekat dari Jakarta, tidak ada biaya masuk, dan dapat suasana segar,” ujar Koordinator Roam UI Adrian Bachrumsyah.

Lokasi Trek Mangkuk berada di utara Fakultas Teknik UI. Tidak hanya itu, di dalam hutan kota UI terbentang Trek Nyamuk sepanjang 3,2 kilometer. Rute Trek Nyamuk berputar-putar di dalam hutan, melipir di tepi danau, dan kembali lagi ke dalam hutan. Lantaran berputar-putar, lintasan itu disebut Trek Nyamuk. ”Tidak semua orang dapat menguasai trek ini. Jika tidak paham, akan terus berputar di dalam hutan,” tutur Adrian.

Murah
Menikmati hutan UI tidak selalu dengan alat dan biaya tinggi. Salah satunya dilakukan Yopi (60) yang menyambangi hutan UI bersama cucunya, Ridwan (10), Patrisia (7), dan Angel (3). Dia menggelar tikar di antara pepohonan dekat Stadion UI. Tempatnya sejuk, tanahnya berbentuk lereng, dan rumputnya terpangkas rata.
Berbekal makanan yang dibawa dari rumah, Yopi menikmati Minggu (11/3/2012) pagi hingga siang itu bersama cucu-cucunya.
Kakek yang tinggal di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, ini merasakan kenikmatan suasana alami di antara pohon yang menjulang tinggi. Dia tidak khawatir dengan keamanan cucu-cucunya. Semuanya terlihat di depan mata.

Dia memilih pergi ke hutan UI sebagai pilihan agar cucu-cucunya tidak bosan.
Koordinator Binaan Hutan Kota UI Tarsoen Waryono mengatakan, saat ini belum ada upaya untuk mengomersialkan hutan. Pemanfaatan untuk kepentingan rekreasi dan olahraga tidak dipungut biaya. Rencana untuk mengembangkan konsep agrowisata sudah dirancang sebelumnya.

Sementara ini, UI baru menyediakan lokasi berkemah di sekitar kantor resimen mahasiswa. Namun, pengunjung yang ingin menginap dapat singgah di Wisma Makara yang memiliki 67 kamar, ruang pertemuan, tempat makan, dan ruang serbaguna.
Wisma ini berada di sisi utara wilayah kampus, secara administratif masuk wilayah Jakarta Selatan, berdampingan dengan asrama mahasiswa. Jika beruntung, Anda dapat menempati kamar dengan pemandangan langsung ke arah hutan dan danau UI.

Hutan kota di Kampus UI terletak di lahan seluas 90 hektar. Di dalamnya terdapat 130 jenis pohon dari rencana pengembangan 800 jenis. Di kawasan dalam hutan terdapat penangkaran rusa, jalur sepeda, jalur lintas alam, dan danau.
Tidak semua hutan di UI dapat diakses karena benar-benar berupa hutan dengan semak-semak tinggi dan pohon yang rapat. Kawasan ini dapat dijangkau melalui Jalan Raya Pasar Minggu dari arah Jakarta, sedangkan dari arah Bogor dapat melewati Jalan Raya Margonda.

Bogor
Lebih ke selatan, Anda bisa memilih Hutan Penelitian Dramaga di Kota Bogor. Susuri tepian danau di pengujung hutan, lalu masuk lebih dalam ke hutan yang teduh ini. Sesap keheningan dan ketenangannya sebelum melihat rusa-rusa timor.
Hujan baru saja mereda suatu pagi pada awal Maret. Udara di sekitar Hutan Penelitian Dramaga di Kecamatan Bogor Barat ini semakin sejuk. Sinar matahari yang malu-malu muncul usai hujan, memantul dari tepian permukaan Situ Gede yang beriak. Rumput di perbatasan hutan dan danau basah.

Lima remaja perempuan duduk di sebatang sisa pohon tumbang, sesekali tertawa di sela percakapan mereka. Tak jauh dari sana, laki-laki dan perempuan duduk di bangku di antara dua pohon, menghadap ke arah Situ Gede, asyik bercengkerama. Beberapa warung di sekitar mereka masih tutup, membuat suasana benar-benar tenang.

”Saya baru sekali ini datang, dan memang suasananya nyaman. Benar-benar kembali ke alam,” tutur Diana (15), seorang dari lima remaja putri yang saat itu sedang mengerjakan tugas sekolah membuat videoklip untuk mata pelajaran Seni dan Budaya SMA.
Hutan Penelitian Dramaga berada di perbatasan antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Hutan ini berada di ujung Kecamatan Bogor Barat yang berbatasan dengan Kecamatan Dramaga (Kabupaten Bogor). Jaraknya hanya sekitar 60 kilometer dari Jakarta. Dari Bogor hanya diperlukan waktu 15-30 menit saja berkendara, bisa melalui jantung kota atau memutar lewat Jalan Soleh Iskandar mengarah ke Taman Yasmin dan Terminal Bubulak.
Luas hutan yang dikelola oleh Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan ini sekitar 60 hektar. Awalnya, kawasan hutan ini adalah perkebunan karet sebelum dijadikan hutan penelitian pada tahun 1956.
Namun, belasan tahun terakhir, 11 hektar di antaranya dimanfaatkan oleh Center for International Forestry Research. Kementerian Kehutanan juga membuat penangkaran rusa timor (Cervus timorensis)di kawasan ini dengan jumlah populasi saat ini sekitar 40 ekor.

Untuk jalur yang paling ringan, Anda bisa memarkir kendaraan di samping Kelurahan Situ Gede, lalu berjalan kaki menyusuri tepian Situ Gede, masuk ke kawasan hutan. Anda bisa langsung mengunjungi penangkaran rusa atau berjalan di sekitar kawasan hutan.
”Kalau masuk ke dalam hutan, sebaiknya hati-hati dengan ular. Untuk mengelilingi kawasan hutan ini setidaknya dibutuhkan 30 menit sampai satu jam jalan kaki. Ada jalan setapak yang menjadi pemisah antarpetak,” tutur Zaenal, penanggung jawab Hutan

Penelitian Dramaga.
Pengunjung perorangan bebas masuk tanpa dipungut biaya. Namun, Zaenal meminta pengunjung tetap menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak merusak tanaman atau membuang sampah sembarangan.

Untuk rombongan cukup besar, ia menyarankan agar sepekan sebelumnya melayangkan surat ke Puslitbang Konservasi dan Rehabilitasi Kementerian Kehutanan di Gunung Batu, Kota Bogor. Jika membutuhkan petugas untuk mengantar berkeliling atau menjelaskan soal hutan itu, bisa juga mengajukan permintaan ke Puslitbang.
Tak perlu pemandu jika Anda sekadar ingin mencari ketenangan. Carilah tempat duduk, lalu tutup mata Anda, hirup kesegaran udaranya, serta rasakan angin yang bertiup dan suara daun di pohon yang digoyang angin. Curi ketenangan hutan ini untuk mengisi jiwa Anda sebelum kembali menghadapi hutan beton.

Sumber : Kompas Cetak

Selengkapnya...